Partnershipredaksi@bolabung.com

Kisah Tragis Fiorentina di Serie A Musim 1998/1999

Semua tifosi fanatik La Viola pasti ingat dengan kisah tragis Fiorentina di musim 1998/1999. Musim dimana mereka hampir saja meraih gelar scudetto.

Fiorentina mungkin bisa juara, jika saja hal tersebut tidak terjadi. Ya, cedera tragis yang menimpa bintang mereka, Gabriel “Batigol” Batistuta di pekan ke-20 Serie A 1998/1999.

Jika di musim sebelumnya (1997/1998) hanya finish di posisi ke-5, dan memunculkan Juventus sebagai peraih scudetto, musim 1998/1999 seakan ditakdirkan untuk La Viola.

Bagaimana tidak, hingga pekan ke-19 musim 1998/1999, klub asal kota Florence itu masih bertengger kokoh di puncak klasemen Serie A.

Kisah tragis Fiorentina ini berawal di giornata ke-20 Serie A, dimana mereka harus menjamu AC Milan di Artemio Franchi.

Saat itu Milan merupakan rival terdekat La Viola dalam perburuan gelar scudetto 98/99.

Tepatnya di babak kedua, Milan mendapat sepak pojok, dan terjadi duel udara antara Batistuta dan striker tim lawan, Oliver Bierhoff.

Setelah duel tersebut, Batistuta terlihat memegangi lututnya sambil meringkih kesakitan.

Namun sang striker masih mampu untuk terus bermain.

Menjelang akhir pertandingan, salah satu pemain Fiorentina mengirimkan umpan lambung terukur yang siap diterima oleh Batigol.

Tapi tiba-tiba, ia langsung terjatuh dan meringkih kesakitan sambil memegangi lututnya.

Image / thesun.co.uk

Agaknya, efek duel udara sebelumnya dengan Bierhoff baru terasa.

Singkat kata, bintang La Viola tersebut harus ditandu keluar lapangan dan terlihat menangis. Batigol seakan tahu bahwa ia harus absen di beberapa pertandingan.

Pertandingan itu sendiri berakhir dengan skor imbang 0-0.

Namun hampir semua orang yakin bahwa Fiorentina akan sangat kehilangan sosok Batistuta di giornata berikutnya.

Dan benar saja… tepatnya di giornata ke-22, Fiorentina yang bermain tanpa Batigol hanya mampu bermain imbang 0-0 dengan AS Roma.

Dan di akhir musim, La Viola harus menerima kenyataan pahit karena hanya finish di posisi 3 klasemen Serie A, di bawah AC Milan dan Lazio.

Banyak yang meyakini bahwa absennya Batistuta di beberapa pertandingan menjadi penyebab utama gagalnya Fiorentina meraih scudetto musim itu.

Well, seperti halnya Belanda yang mendapat gelar juara tanpa mahkota di Piala Dunia 1974, hal yang sama juga agaknya bisa diberikan untuk Fiorentina 98/99.

Karena saat itu, skuat asuhan Giovanni Trapattoni dinilai berhasil menyuguhkan permainan menyerang nan atraktif.

Skuat mereka juga dipenuhi oleh banyak bintang seperti: Francesco Toldo, Tomas Repka, Aldo Firicano, Moreno Torricelli, Manuel Rui Costa, dan tentunya Gabriel Batistuta.

Pada akhirnya, Batistuta berhasil meraih scudetto bersama AS Roma di musim 2000/2001.

Begitu juga dengan Rui Costa yang sukses besar bersama AC Milan.

Meskipun gagal membawa La Viola meraih scudetto, nama Batistuta tetap harum bagi tifosi setia Fiorentina.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *